Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Informasi

Lomba Majalah Dinding Siswa SMP

Senin, 25 Mei 2009

Plaza Parahyangan akan menggelar lomba majalah dinding (mading) bagi siswa SMP se-Kota Bandung, Sabtu (30/5) pukul 12.30 di lantai 4 Gedung Plaza Parahyangan, Jln. Dalem Kaum Bandung, Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).


Peserta berkelompok dan tidak dikenakan biaya.

Sumber Pikiran Rakyat

baca selengkapnya »»

Informasi

Diklat Guru Tingkat Internasional 2009

Senin, 25 Mei 2009

Yayasan Global Bina Generasi bekerja sama dengan STKIP Pasundan mengadakan pendidikan dan latihan (Diklat) Guru Tingkat Internasional 2009 untuk dosen & guru sekolah/Madrasah se-Indonesia.


Acara yang bertema "Menjawab Tantangan Guru/Dosen di Era Globalisasi" tersebut digelar pada Sabtu dan Minggu (6 - 7/6) di Gd. LEC Cimahi. Akan hadir praktisi pendidikan dari Singapura. Pendaftaran s.d. 5 Juni 2009. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi Novi-Ria (022 - 92253506) dan Yuda ( 0817420933 ).

baca selengkapnya »»

Informasi

Perayaan Hardiknas 2009 Habiskan Rp 2 Miliar

Senin, 25 Mei 2009

BANDUNG, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memberikan penghargaan Satya Lencana Pendidikan kepada 14 orang pendidik pada puncak perayaan Hardiknas 2009 di Sabuga, ITB, Kota Bandung, Selasa (26/5). Anggaran untuk perayaan Hardiknas 2009 itu sendiri habiskan Rp 2 miliar. Penghargaan tertinggi di bidang pendidikan itu untuk delapan orang kepala sekolah, empat guru yang bertugas di daerah terpencil, serta dua orang petugas pengawas pendidikan.


"Penerima penghargaan berasal dari beberapa daerah di Indonesia," kata Koordinator Humas Panitia Hardiknas 2009, Ismunandar, di Bandung, Senin (25/5). Rencananya, peringatan Hardiknas itu akan dihadiri oleh Mendiknas Bambang Sudibyo, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Rektor Perguruan Tinggi se-indonesia, Muspida Jabar, serta para tokoh pendidikan nasional.

Selain menyerahkan Satya Lencana Pendidikan, Presiden juga akan menyerahkan medali emas kepada 55 orang pemenang Olimpiade Pendidikan Tingkat Internasional 2009 serta penghargaan World Class University yakni UI, UGM, dan ITB.

Presiden juga akan menyerahkan beasiswa kepada santri berprestasi di tiga kabupaten/kota, penyerahan piagam penghargaan Adi Bahasa serta penyerahan penghargaan pembangunan Madrasah Bertaraf Internasional. Penghargaan untuk madrasah internasional itu akan diberikan kepada bupati/wali kota di Kabupaten/Kota Indramayu, Pekalongan, Bedagai Serdang, Batam, Dumai, Padang Pariaman, Musi Banyuasin, Tanah Laut, Paser, Maros, Lombok, dan Palu.

"Penghargaan Adi Bahasa akan diberikan kepada tiga provinsi yakni Jatim, Sumbar, dan Sulawesi Tenggara," kata Ismunandar.

Habiskan Rp 2 miliar

Peringatan Hardiknas 2009 tahun ini bertema "Pendidikan Sains, Teknologi dan Seni; Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa". Acara inti akan ditandai dengan peluncuran Peta Bahasa Indonesia, oratorium "Sang Kereta Pengatikan" oleh tim sendratari STSI Bandung, serta puncaknya penyampaian amanat presiden.

Kegiatan Hardiknas 2009 yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 2 miliar itu juga dimeriahkan dengan Pameran Gelar Produk Hasil Karya Anak Bangsa, Festival Seni Budaya Rakyat Jabar, serta seminar pendidikan. Pameran Produk Hasil Karya Anak Bangsa menampilkan 50 kios karya enam PTN, PTS, SMK, SMA, serta BUMN dan lain-lainnya," kata Ismunandar.

Khusus terkait oratorium "Sang Kereta Pangatikan", yang digarap oleh mahasiswa STSI, akan menjadi pergelaran sendratari kolosal melibatkan 150 orang penari dan 40 orang nayaga.

"Intinya menggambarkan peranan pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan," tambah Ismunandar.

baca selengkapnya »»

Informasi

GURU HARUS BERANI BILANG AKU BISA

JAKARTA, KOMPAS.com- Sebanyak 1.500-1.600 guru TK dan SD di delapan kota di Indonesia akan menerima pelatihan untuk memotivasi para pendidik itu supaya selalu siap mendidik generasi penerus bangsa dengan cara yang terbaik dalam kondisi apapun.

Para guru itu ditantang untuk selalu menjadi guru yang siap mengatakan "Aku Bisa" saat menjalankan tugas mengajar bagi siswa dalam situasi krisis sekalipun


Armanto Sutedjo, Manajer Pemasaran Kuark International, di Jakarta, Senin (25/5), mengatakan, program pelatihan guru yang sudah berlangsung di Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta, serta menyusul di Bandung, Medan, Pekanbaru dan Makassar, terselenggara atas dukungan dan kerjasama dari Kalbe Nutritional.

Tema yang diangkat adalah "A Key to Effective Teaching for Platinum Generation", di mana dalam situasi yang sedang dilanda krisis, guru tetap harus punya semangat "Aku Bisa" untuk mengajar anak didik mereka dengan baik dan bertanggungjawab.

Lewat program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) perusahaan dari Kalbe Nutrional yang berjudul Aku Bisa, selanjutnya guru-guru ini diharapkan dapat membawa semangat Aku Bisa ini di dalam mengajar termasuk menerapkan pembekalan yang sudah ada.

baca selengkapnya »»

Informasi

PENDIDIKAN DI INDONESIA BELUM SEIMBANG

senin, 25 Mei 2009


BANDUNG, KOMPAS.com - Pendidikan di Indonesia, pada praktiknya belum mendukung upaya penciptaan insan-insan kreatif. Sekolah saat ini masih menitikberatkan pada hal-hal yang sifatnya eksak atau aspek intelektualitas saja. Kreativitas tidak dihidupkan dalam banyak mata pelajaran, kecuali seni dan estetika. Demikian salah satu pokok persoalan yang mencuat di dalam Diskusi Pemikiran Institut Teknologi Bandung tentang Industri Kreatif yang diadakan Majelis Guru Besar ITB, Senin (25/5). Hasil dari diskusi ini dan berbagai pemikiran para pakar dan praktisi di ITB ini kemudian akan dituangkan di dalam buku tentang industri kreatif.


Persoalan industri kreatif di sektor hulu ini disoroti guru besar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Primadi Tabrani. Ia mengatakan, dalam kurikulum pendidikan saat ini, kreativitas tidak banyak disebut, bahkan belum diberi ruang cukup. Secara turun temurun, pendidikan lebih mementingkan rasio dan hapalan. Siswa sekarang pun di drill (dipaksa) untuk hanya mementingkan mata pelajaran eksak.

"Di MIPA (Matematika dan IPA), aturannya dibuat ketat dan seragam mulai dari aksioma sampai alogaritma. Tidak ada ruang untuk pemikiran alternatif yang di dalamnya menguji kreativitas dan imajinasi," ucapnya.

Menurutnya, proses belajar yang baik bukan mengumpulkan pengetahuan sejak TK-SMA seperti kecenderungan terjadi saat ini.

"Akibatnya saat di SMA, memori sudah penuh. Karena ada ulangan, belajar mati-matian, masih ada yang bisa menembus memori. Tapi, pada saat sama, akan ada yang dikeluarkan. Ya, tidak lain, memori yang tidak bermutu, hapalan," ucapnya.

Pendidikan yang ideal, ucapnya, adalah menuntun anak untuk bisa memecahkan masalah dengan cara mereka masing-masing. Sehingga, bisa tumbuh kreativitas.

"Kalau pendidikan kita tidak banyak memberi ruang kreatif, maka di masa depan, kita akan banyak kekurangan insan-insan kreatif untuk mendukung tumbuhnya industri kreatif," ucapnya.

Mudah-mudahan pula tidak terwujud moto : bangsa yang tidak kreatif akan terlindas sejarah, kritiknya.

Mesti dibenahi

Wakil Ketua Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Indonesia (MIKTI) Andreas Pariyanto sangat menyayangkan kondisi ini. Pendidikan di Indonesia belum memberikan kesempatan yang sama untuk anak mengembangkan kemampuan otak kiri (intelegensia) dan otak kanan (kemampuan seni, imjainasi dan kreativitas). Ini mesti segera dibenahi. "Pendidikan mesti sama-sama memberi ruang berkembangnya otak kiri dan kanan seperti anak-anak di masa kecil," ujarnya.

Pengamat budaya dari ITB Yasraf Amir Piliang mengatakan, macetnya kreativitas bisa disebabkan banyak faktor, baik kebiasaan individual atau sebaliknya terlalu kolektif, pengetahuan yang minim, atau lingkungan sosial dan kultur yang tidak mendukung.

Dari sekian banyak faktor, ia menekankan pentingnya faktor lingkungan atau komunitas. Amir meyakini, keberhasilan industri kreatif lebih ditentukan masyarakat atau komunitasnya, ketimbang individu-individu yang brilian.

baca selengkapnya »»

Informasi

GURU "HARUS" KREATIF MANFAATKAN BARANG BEKAS

Senin, 25 Mei 2009


MEDAN, KOMPAS.com — Kertas karton, tutup botol, plastik, kotak korek api, serta berbagai bahan bekas lain yang selama ini dibuang karena dianggap tidak bermanfaat ternyata bisa dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut diutarakan oleh Kepala Pusat Sumber Belajar dan Teknologi Kependidikan dan Sumber Kurikulum (PSBTK-SK) Universitas Negeri (USU), Medan, Sumatera Utara, Dr Binari Manurung, MSi, di Medan, Senin (25/5).


Binari mengatakan, banyak upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia mulai tingkat TK hingga perguruan tinggi. Upaya tersebut mulai dari melengkapi sarana dan prasarana sekolah seperti laboratorium, menatar para guru, memberikan beasiswa pada siswa dan guru, sampai peningkatan peranan orangtua dalam membenahi sekolah lewat komite sekolah.

Cara lain tidak kalah pentingnya adalah mengoptimalkan penggunaan media pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Hal itu diyakini Binari dapat meningkatkan mutu pendidikan.

"Dengan penggunaan media tersebut, pesan yang disampaikan oleh pendidik dapat lebih mudah dimengerti atau dipahami oleh peserta didik," kata Binari. Dia menambahkan, salah satu media pembelajaran yang dapat dipakai agar dapat meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memanfaatkan berbagai barang bekas yang perlu lebih dioptimalkan.

Hanya saja, kata Binari, untuk lebih mengoptimalkan media pembelajaran dari barang bekas tersebut dibutuhkan kreativitas dan keinginan para pendidik untuk mencari, menemukan, dan mengembangkannya.

"Di sinilah dibutuhkan kreativitas guru untuk menciptakannya. Berbekal pengalamannya selama ini sebagai tenaga pendidik, hal itu tentunya tidaklah begitu sulit," katanya.

18 model aneka barang bekas

Menurut Binari, media yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami materi pelajaran tidaklah harus yang modern, mahal, dan buatan pabrik. Media sederhana dan murah terbuat dari bahan bekas atau sisa pakai yang ada dan tersedia di lingkungan masing-masing pun bisa dimanfaatkan.

"Paling tidak sedikitnya ada 18 model dari aneka barang bekas sisa pakai itu yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar," katanya. Sebutlah, Binari mencontohkan, botol, gelas plastik, dan kantong plastik yang dapat digunakan sebagai pengganti peralatan laboratorium. Alat-alat tersebut bisa digunakan sebagai alat percobaan atau praktikum yang mudah dan murah.

Tutup botol bekas, misalnya, baik yang terbuat dari plastik maupun logam dari berbagai ukuran dan warna dapat digunakan untuk klasifikasi jenis. Dengan bahan bekas sisa ini, tambah Binari, peserta didik dapat dilatih dalam menggolong-golongkan benda menurut ukuran dan warnanya.

Begitu juga dengan bola lampu bekas yang dapat dipakai untuk penunjukan pemuaian zat cair. Caranya, isi penuh bola lampu tersebut dengan air, lalu tutup bola lampu dengan gabus berlubang. Masukkan pipet bekas ke dalam lubang gabus tersebut. Alhasil, bila bola lampu dipanaskan di atas api, seketika akan terlihat air naik melalui pipa pengisap tersebut.

Bahkan, jelas Binari, masih banyak contoh lain pemanfaatan barang bekas untuk proses belajar mengajar. Batang arang baterai, karton tempat telur, tusuk gigi atau bola plastik, misalnya.

"Kemauan dari guru untuk mencari model-model lain sangat dibutuhkan hingga di masa mendatang, sehingga lebih banyak lagi media pembelajaran dari bahan bekas yang bisa dimanfaatkan," katanya.

baca selengkapnya »»